Doomscrolling adalah keadaan seseorang yang sangat aktif mencari materi yang membuatnya penasaran hingga menyedihkan atau berdampak negative bagi pembaca karena ingin terus menelusuri sosial media atau outlet berita yang menarik perhatiannya selama berjam-jam lamanya. Sebenarnya, semua ini berawal dari munculnya covid-19 yang mengharuskan seseorang isolasi mandiri dan melakukan hal tersebut. Doomscrolling memang terdengar cukup suram dan sering membuat masyarakat menerima arus berita buruk di sosial media. Bahkan, kita sudah bisa menebak doomscrolling sangat buruk bagi kesehatan mental manusia. Hal ini, dapat diperkuat melalui halaman Cleveland clinic.
Seorang Psikolog, usan Albers, PsyD, menjelaskan lebih lanjut mengenai doomscrolling, dampaknya bagi kesehatan menta, karena kita akan cenderung menghabiskan banyak waktu untuk melakukan scroll sosial media hingga mengonsumsi berita negative dan berasa susah melepaskan diri dari semua berita.
Saat melakukan doomscroll, kita mungkin juga mengatakan pada diri sendiri bahwa kita hanya melakukannya untuk mendapatkan informasi tentang apa yang terjadi di dunia “Saat kita tertekan, kita sering mencari informasi yang dapat mengonfirmasi apa yang kita rasakan,” kata Albers.
“Doomscrolling beroperasi dengan pola pikir yang sama. Jika kita merasa negatif, maka membaca berita negatif hanya akan mengonfirmasi apa yang kita rasakan,” terangnya.
Dampak doomscrolling bagi kesehatan mental Doomscrolling
dapat memperkuat pikiran negatif, yang bisa sangat berdampak pada kesehatan mental kita.
Penelitian telah mengaitkan konsumsi berita negatif dengan peningkatan depresi dan kecemasan, serta perasaan takut, stres, dan sedih. Berikut ini adalah beberapa efek potensial dari doomscrolling:
Memperburuk masalah kesehatan mental
Albers mengatakan, jika kita rentan terhadap kecemasan, depresi, atau kesedihan, doomscrolling bisa benar-benar menyerap ke dalam perasaan kita. Hal-hal negatif dapat membuat kita terpuruk dengan cepat, bahkan dapat mengakibatkan serangan panik.
Mengakibatkan insomnia
Dalam sebuah penelitian, 70 persen partisipan mengakui bahwa mereka menggulir media sosial dari tempat tidur, dan semakin banyak waktu yang mereka habiskan untuk melakukannya, semakin besar kemungkinan mereka mengalami kesulitan tidur.
“Saat kita cemas, sulit untuk mengalihkan pikiran untuk tidur,” ungkap Albers.
Mengacaukan pikiran
Ini menggambarkan situasi yang memanipulasi persepsi kita tentang realitas, atau bahkan kewarasan. Dalam hal doomscrolling, kita biasanya melihat informasi dari satu media yang mengatakan satu hal, tetapi sumber berikutnya yang kita gulir memberikan informasi yang sepenuhnya bertentangan.
“Pikiran kita tidak tahu bagaimana cara mendamaikan keduanya,” kata Albers.
Begitulah dampak negative dari doomscrolling, apakah anda telah merasakan salah satunya? Maka, segera berhenti dari kebiasaan ini, dengan cara yang akan di ungkapkan, setelah ini.
Cara Cepat Menghentikan Doomscrolling
Seperti yang kalian ketahui, media sosial berguna untuk mengkonsumsi berita yang cukup viral dalam dunia ini, tapi tanpa difilter. Sehingga, semua informasi negative dan positif akan masuk kedalam sosial media dengan mudah. Jadi, kita perlu berusaha jeras untuk belajar memperhatikan dampaknya.
Kita harus menggunakan konsep “Mindfulness” untuk menghadapi Doomscrolling yang marak dialami para Gen Z sejak Covid 19 hingga sekarang. Berikut ini, beberapa tips yang perlu anda lakukan :
Membatasi diri
Tidak masalah untuk membaca beberapa berita agar tetap terinformasi, tetapi batasan-batasan sangat penting. Dalam hal doomscrolling, ini berarti menetapkan beberapa parameter untuk kapan, di mana, dan berapa lama kita dapat membaca berita.
Letakkan Ponsel
Meletakkan ponsel, entah itu di sisi lain ruangan atau di tempat lain yang jauh dari kita. Jika kita biasanya melakukan scrolling di pagi hari, mulailah meletakkan ponsel di seberang kamar sehingga kita tidak bisa meraihnya dari tempat tidur. Saat bangun, buatlah sarapan, minum secangkir kopi, dan mulailah hari sebelum membiarkan diri menyelami berita.
Tetapkan Batas Waktu
Dalam hal doomscrolling, teknologi itu sendiri adalah pedang bermata dua. Teknologi adalah bagian utama dari masalah, tetapi juga dapat memainkan peran besar dalam solusinya. Kita dapat menggunakan aplikasi alarm, aplikasi kesehatan pihak ketiga, dan opsi seperti fitur “istirahat” dari media sosial untuk menerapkan batas waktu dan membantu menegakkan batasan yang telah ditetapkan secara online.
Filter Saluran Media Sosial
Albers merekomendasikan untuk mempersulit diri sendiri untuk melakukan doomscroll sejak awal. “Berhenti mengikuti sumber berita negatif atau yang cenderung membuat kita cemas, dan batasi jumlah sumber yang kita lihat. Batasi jumlah situs yang kita baca dalam satu hari atau bahkan dalam satu kali kunjungan,” sarannya
Perhatikan Suasana Hati
Ketika kita secara sadar memperhatikan perasaan negatif seperti kecemasan, kegelisahan, dan stres, Albers mengatakan bahwa hal tersebut akan memotivasi kita untuk mengerem.
“Cobalah untuk memerhatikan bagaimana sebuah artikel, cerita, postingan, atau video memengaruhi perasaan kita saat menggulirnya,” katanya.
“Perhatikan sensasi dalam tubuh dan amati respons pikiran kita terhadap berita tersebut,” terangnya.
Berlatih mengendalikan pikiran
Ketika membaca berita yang buruk atau negatif, seringkali ini mengacu pada pemikiran berlebihan yang dapat menjadi gejala stres, kecemasan dan depresi. “Seringkali, pikiran-pikiran ini mungkin saja terjadi tetapi tidak benar-benar terjadi. Pikiran kita melompat-lompat dari A ke Z,” ujar Albers. Sebaliknya, berlatihlah untuk mengendalikan pikiran dengan bertanya pada diri sendiri
Periksa ponsel secara sadar, bukan secara kompulsif
Jika kita cenderung melakukan doomscrolling, memeriksa ponsel mungkin telah menjadi sesuatu yang kita lakukan secara otomatis dan tanpa banyak berpikir. Albers mendorong untuk menjadi lebih sadar tentang seberapa sering memeriksanya. Ketika kita memeriksa ponsel, berhenti sejenak dan kenali apa yang sedang kita lakukan, kemudian kita dapat mempraktikkan teknik perilaku kognitif yang dikenal sebagai penghentian pikiran, yang terkadang digunakan untuk mengatasi pikiran obsesif atau cemas.
Cari Berita Berdampak Positif
etika semua berita tampak suram, hal ini dapat membuat kita merasa putus asa dan sedih. Namun, cobalah untuk mengingat bahwa kta hanya melihat sedikit demi sedikit dari dunia pada waktu tertentu dan tidak semuanya buruk.
Beristirahat dari media sosial
Kita mungkin perlu beristirahat sejenak dari media sosial untuk menghentikan doomscrolling. Ketika kita tidak panik dengan semua yang kita baca di dunia maya, maka kita akan merasa lebih terhubung dengan kehidupan sehari-hari termasuk keluarga dan teman, hobi, karier, dan hal-hal lain yang berarti bagi kita.